Oleh: Ambo Dalle | Ketua BPW HIPKA Provinsi Sulawesi Tengah

Hari ini, ketika HIPKA memasuki usia 16 tahun, saya ingin momentum ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perjalanan masih panjang. HIPKA harus terus tumbuh. Bukan hanya besar secara organisasi, tetapi juga besar dalam manfaat, khairunnas anfauhum linnas (sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya)

HARI INI, 29 September 2026, genap 16 tahun perjalanan Himpunan Pengusaha KAHMI (HIPKA). Bagi saya, momentum ini bukan sekadar peringatan hari lahir sebuah organisasi. Ini adalah kesempatan untuk melihat kembali apa yang sudah kita kerjakan dan, yang lebih penting, ke mana HIPKA akan kita bawa ke depan.

HIPKA lahir pada 29 September 2010 di Jakarta. Organisasi ini lahir dari kesadaran bahwa alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki modal yang besar: pendidikan, pengalaman, jaringan, dan kemampuan intelektual. Modal itu tentu tidak boleh berhenti menjadi kebanggaan, tetapi harus diubah menjadi sesuatu yang produktif dan memberi manfaat.

Salah satu ruang yang penting untuk itu adalah dunia usaha. Kita tahu, banyak alumni HMI yang kemudian menjadi akademisi, birokrat, politisi, profesional, maupun pengusaha. Semua memiliki jalan pengabdian masing-masing. Tetapi dunia usaha juga membutuhkan orang-orang yang memiliki keberanian, pengetahuan, integritas, dan kepedulian terhadap masyarakat. Di situlah HIPKA mengambil peran.

Bagi saya, HIPKA bukan sekadar tempat berkumpulnya orang-orang yang sudah menjadi pengusaha. HIPKA harus menjadi tempat tumbuh. Tempat orang yang baru mulai berusaha bisa belajar dari mereka yang sudah lebih dulu menjalani. Tempat pengusaha kecil bisa mendapatkan akses dan jaringan. Dan tempat pengusaha yang sudah besar bisa ikut membuka jalan bagi yang lain.

Potensi Besar yang Jangan Berhenti Menjadi Potensi

KAHMI memiliki sumber daya manusia yang sangat besar. Setiap tahun, sedikitnya 2.000 alumni HMI disebut masuk menjadi bagian dari keluarga besar KAHMI.

Kalau angka itu kita lihat sebagai manusia, bukan sekadar angka, maka kita akan menemukan ribuan orang dengan latar belakang pendidikan, keahlian, pengalaman dan jaringan yang berbeda.

Ada dokter, insinyur, ekonom, pengacara, akademisi, birokrat, politisi, pengusaha, pekerja profesional, dan banyak lagi. Pertanyaannya kemudian sederhana: bagaimana semua potensi itu bisa saling menguatkan?

Sebab, memiliki banyak orang pintar belum tentu otomatis membuat sebuah komunitas menjadi kuat. Pengetahuan dan pengalaman baru akan menjadi kekuatan kalau ada ruang untuk bertemu dan bekerja bersama.

Di sinilah HIPKA dibutuhkan. Kita perlu membangun kebiasaan baru. Jangan hanya bertemu dalam acara seremonial. Jangan pula berhenti pada diskusi dan wacana. Kalau ada anggota yang memiliki pasar, kenapa tidak membuka akses bagi anggota yang memiliki produk? Kalau ada yang memiliki pengalaman usaha, kenapa tidak membimbing pengusaha yang baru memulai? Kalau ada yang memiliki jaringan pembiayaan, kenapa tidak mempertemukannya dengan usaha yang memiliki prospek?

Bagi saya, hal-hal sederhana seperti itu, justru bisa menjadi kekuatan besar kalau dilakukan secara konsisten.

Menjadi Pengusaha dengan Nilai

HIPKA lahir dari lingkungan KAHMI, dan memiliki karakter sebagai wadah pengusaha muslim. Karena itu, nilai-nilai Islam semestinya tidak hanya terlihat dalam identitas organisasi, tetapi juga dalam cara kita menjalankan usaha.

Dalam bisnis, kejujuran bukan slogan. Amanah bukan sekadar kata. Integritas akan diuji ketika kita berhadapan dengan kesempatan mendapatkan keuntungan yang besar.

Dalam pikiran saya, menjadi pengusaha bukan hanya soal berapa besar omzet dan keuntungan yang bisa dicapai. Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: berapa banyak orang yang ikut tumbuh karena usaha kita?

Ketika sebuah perusahaan mempekerjakan orang, membeli hasil produksi petani, menggunakan jasa pengusaha lokal, atau membuka peluang bagi anak-anak muda, sebenarnya di situ ada nilai sosial yang sedang dibangun.

Karena itu, keuntungan dan kemanfaatan tidak perlu dipertentangkan. Bisnis harus sehat agar bisa bertahan, tetapi bisnis juga harus memiliki nilai agar keberadaannya dirasakan masyarakat.

Sulawesi Tengah Jangan Hanya Menjadi Penonton

Sebagai orang Morowali, Sulawesi Tengah, saya melihat sendiri bagaimana daerah ini berkembang. Investasi terus masuk. Industri tumbuh. Infrastruktur berkembang. Banyak sektor yang memiliki prospek, mulai dari pertambangan, energi, pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, perdagangan, industri pengolahan hingga ekonomi kreatif.

Ini peluang. Tetapi pada saat yang sama, kita juga harus bertanya: sejauh mana pengusaha lokal ikut mengambil bagian dalam pertumbuhan tersebut? Jangan sampai investasi besar datang ke daerah, tetapi pelaku usaha lokal hanya menjadi penonton.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua harus dikerjakan oleh pengusaha lokal. Kita justru membutuhkan kerja sama dengan investor, perusahaan nasional maupun internasional. Yang penting adalah, bagaimana pengusaha daerah memiliki kemampuan dan kapasitas untuk masuk dalam rantai ekonomi yang terbentuk.

Menjadi pemasok. Menjadi mitra. Menjadi penyedia jasa. Mengelola usaha pendukung. Bahkan, kalau memungkinkan, menjadi pelaku industri yang menciptakan nilai tambah. Untuk sampai ke sana, tentu kita harus meningkatkan kemampuan. Pengusaha lokal tidak cukup hanya memiliki keberanian.

Kita membutuhkan manajemen yang baik, kemampuan membaca pasar, akses pembiayaan, teknologi, kemampuan memenuhi standar, serta jejaring yang luas. Dan saya melihat HIPKA bisa mengambil peran di ruang itu.

Dari Sulawesi Tengah Kita Mulai

Sebagai Ketua BPW HIPKA Sulawesi Tengah, saya melihat penguatan pengusaha daerah, sebagai salah satu pekerjaan penting yang harus dilakukan. Kita tidak bisa membangun ekonomi daerah hanya dari satu sektor.

Sulawesi Tengah memiliki potensi yang berbeda-beda di setiap daerah. Ada wilayah yang kuat di pertanian dan perkebunan. Ada yang memiliki potensi perikanan. Ada pertambangan dan energi. Ada pariwisata, perdagangan, jasa, serta ekonomi kreatif. Semua punya peluang.

Karena itu, HIPKA harus turun lebih dekat kepada para pelaku usaha. Bukan hanya hadir di tingkat provinsi, tetapi juga membangun jaringan sampai kabupaten dan kota. Kita perlu mengetahui persoalan mereka. Apa yang membuat usaha sulit berkembang? Apakah akses modal? Pasar? Manajemen? Teknologi? Legalitas? Atau justru jaringan? Kalau persoalannya sudah diketahui, barulah kita bisa mencari jalan keluarnya bersama.

Saya ingin HIPKA menjadi organisasi yang terasa manfaatnya. Anggota tidak hanya mengenal HIPKA dari acara pelantikan atau seminar, tetapi merasakan bahwa organisasi ini benar-benar membantu membuka jalan.

Jangan Takut Masuk ke Sektor Baru

Dunia usaha berubah sangat cepat. Apa yang menjadi bisnis besar hari ini, belum tentu menjadi bisnis besar sepuluh tahun mendatang. Begitu pula sebaliknya, sektor yang dulu dianggap kecil bisa berkembang menjadi peluang baru.

Karena itu, pengusaha KAHMI tidak boleh takut belajar. Kita harus mulai melihat teknologi, ekonomi digital, industri kreatif, energi baru, pengolahan hasil pertanian, pariwisata dan berbagai sektor lain sebagai ruang yang terbuka untuk dimasuki. Kita tidak harus menjadi ahli dalam semuanya. Tetapi kita harus mau memahami perubahan.

Anak-anak muda juga harus mendapat tempat lebih besar. Mereka hidup dalam dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka lebih dekat dengan teknologi, lebih cepat beradaptasi, dan memiliki cara baru dalam membangun usaha.

Tugas kita bukan mengajari mereka semuanya. Kadang tugas kita justru memberikan ruang agar mereka bisa tumbuh.

Jaringan Harus Menghasilkan Kerja

Kita sering mengatakan bahwa salah satu kekuatan alumni HMI adalah jaringan. Saya setuju dengan statement itu. Tetapi jaringan tidak akan berarti banyak kalau hanya berhenti pada saling mengenal dan bertukar nomor WhatsApp. Jaringan harus menghasilkan kerja. Kalau ada dua pengusaha yang kemudian bekerja sama karena dipertemukan di HIPKA, itu hasil. Kalau seorang anggota mendapatkan pasar baru melalui jaringan HIPKA, itu hasil. Kalau pengusaha muda mendapatkan mentor, itu juga hasil.

Ukuran keberhasilan organisasi pengusaha pada akhirnya bukan hanya berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan. Lebih dari itu, kita harus melihat berapa banyak usaha yang tumbuh, berapa banyak lapangan pekerjaan yang tercipta, dan berapa banyak kerja sama yang lahir dari jaringan yang kita bangun.

Enam Belas Tahun dan Tantangan ke Depan

Enam belas tahun bukan waktu yang pendek. HIPKA telah melewati banyak perubahan. Dunia usaha hari ini jauh berbeda dibanding ketika organisasi ini pertama kali didirikan pada 2010.

Teknologi berkembang sangat cepat. Kecerdasan buatan mulai mengubah cara orang bekerja. Konsumen berubah. Persaingan semakin terbuka. Dunia usaha juga dituntut semakin memperhatikan lingkungan dan keberlanjutan. Semua perubahan itu tidak mungkin kita hindari.

Pilihan kita adalah belajar dan beradaptasi. Karena itu, HIPKA ke depan harus menjadi rumah bersama bagi pengusaha dari berbagai generasi dan skala usaha.

Yang baru mulai harus diberi kesempatan belajar. UMKM harus didorong naik kelas. Pengusaha menengah harus diberi ruang memperluas pasar. Mereka yang sudah berhasil juga harus didorong untuk berbagi pengalaman dan membuka peluang bagi orang lain.

Saya percaya, organisasi akan menjadi besar bukan karena satu atau dua orang di dalamnya, tetapi karena banyak orang merasa memiliki dan ikut bekerja untuk membesarkannya.

Kewirausahaan sebagai Pengabdian

Saya selalu melihat ,kewirausahaan bukan hanya sebagai jalan mencari penghasilan. Ada unsur pengabdian di dalamnya. Seorang pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan, pada saat itu ia sedang membantu keluarga-keluarga mendapatkan penghidupan. Pengusaha yang membeli hasil petani atau nelayan lokal, ikut menjaga perputaran ekonomi di daerah. Pengusaha yang berani membangun industri pengolahan, ikut menciptakan nilai tambah bagi daerahnya. Karena itu, menjadi pengusaha adalah sebuah pilihan untuk ikut menyelesaikan persoalan.

Kita tentu tidak bisa menyelesaikan semua persoalan ekonomi. Tetapi kita bisa mengambil bagian. Itulah yang menurut saya harus terus dibangun di HIPKA.

Kita memiliki alumni dengan kemampuan intelektual yang besar. Kita memiliki jaringan. Kita memiliki pengalaman. Kita juga memiliki daerah yang kaya dengan sumber daya dan peluang.

Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk menyatukan semua itu dalam kerja nyata. Hari ini, ketika HIPKA memasuki usia 16 tahun, saya ingin momentum ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perjalanan masih panjang. HIPKA harus terus tumbuh. Bukan hanya besar secara organisasi, tetapi juga besar dalam manfaat, khairunnas anfauhum linnas (sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya).

Dari Sulawesi Tengah, kita ingin melihat semakin banyak pengusaha lokal yang tumbuh, semakin banyak anak muda yang berani memulai usaha, semakin banyak kerja sama yang lahir, dan semakin besar kontribusi alumni HMI dalam membangun ekonomi masyarakat.

Sebab pada akhirnya, ukuran dari sebuah perjuangan bukanlah seberapa sering kita berbicara tentang potensi. Ukuran yang sesungguhnya adalah seberapa banyak potensi itu berhasil kita ubah menjadi kenyataan.

Selamat Milad ke-16 HIPKA

Mari terus bergerak. Dari daerah, membangun kekuatan ekonomi bangsa. (*)

(Editor: Ruslan Sangadji)