Maka senyum Bahlil ketika Sarmuji menandatangani berita acara pelantikan, bisa menjadi simbol sederhana dari sebuah perjalanan panjang. Seorang ketua umum melihat sekretaris jenderalnya naik satu tingkat ke panggung pemerintahan. Seorang kader organisasi melihat rekan seperjalanannya mendapatkan amanah baru
DARI AKTIVIS HMI, kader muda Golkar, hingga Sekjen partai, Muhammad Sarmuji akhirnya masuk ke lingkaran kabinet. Senyum Bahlil Lahadalia saat nama sahabatnya disebut dalam prosesi pelantikan menjadi potongan kecil yang menarik dari reshuffle kabinet ketujuh.
Ada satu momen kecil yang mencuri perhatian di tengah prosesi pelantikan kabinet hasil reshuffle ketujuh ,pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Kamis, 1 Oktober 2026.
Ketika nama Muhammad Sarmuji disebut untuk menandatangani berita acara pelantikan sebagai Menteri Perindustrian, kamera menangkap ekspresi Bahlil Lahadalia yang tersenyum.
Sekilas, itu hanya gestur singkat di antara rangkaian seremoni kenegaraan. Namun, bagi mereka yang mengikuti perjalanan politik Partai Golkar dalam dua tahun terakhir, senyum tersebut bisa dibaca sebagai sebuah potret hubungan politik yang telah berkembang cukup jauh: dari hubungan antarkader menjadi duet yang kini sama-sama berada di pemerintahan.
Hari itu, Sarmuji resmi dilantik Presiden Prabowo sebagai Menteri Perindustrian, menggantikan Agus Gumiwang Kartasasmita. Pada saat yang sama, Bahlil mendapat penugasan baru sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Energi, sekaligus tetap menjalankan tugas Menteri ESDM untuk sementara.
Dengan demikian, dua figur yang selama ini berada di pucuk Partai Golkar kini sama-sama menempati posisi di kabinet.
Dan kisah keduanya menarik untuk dilihat bukan semata dari jabatan yang mereka sandang, tetapi dari bagaimana hubungan politik itu terbentuk.
Dari Sekjen Golkar Menjadi Menteri
Sebelum namanya masuk daftar kabinet, Sarmuji dikenal sebagai salah satu figur penting di internal Partai Golkar.
Ia dipercaya Bahlil menjadi Sekretaris Jenderal Partai Golkar periode 2024-2029. Rekam jejaknya memang panjang. Berdasarkan riwayat hidup yang tercatat di MPR, Sarmuji pernah menjadi Ketua Umum HMI Cabang Jember, Ketua PB HMI, Wakil Sekjen AMPI, Sekjen AMPG, Ketua KNPI, anggota DPR RI, Ketua Golkar Jawa Timur, hingga akhirnya menjadi Sekjen DPP Partai Golkar.
Jalur itu membuat Sarmuji bukan pendatang baru di lingkungan politik nasional.
Ia sudah lama berada di antara organisasi kemahasiswaan, organisasi kepemudaan, parlemen, dan struktur partai.
Bahkan sebelum menjadi legislator, Sarmuji pernah menjadi tenaga ahli Fraksi Partai Golkar di DPR RI. Pada Pemilu 2014, ia kemudian terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Timur VI. Ia kembali terpilih pada pemilu-pemilu berikutnya.
Kariernya dengan demikian tidak dibangun dalam satu lompatan. Ada tangga organisasi yang panjang di belakangnya.
Bahlil dan Sarmuji: Bukan Sekadar Ketua Umum dan Sekjen
Di struktur partai, hubungan Ketua Umum dan Sekjen tentu memiliki dimensi formal. Ketua umum menentukan arah kepemimpinan politik, sementara sekjen menjadi salah satu mesin utama organisasi.
Namun, hubungan Bahlil dan Sarmuji dalam beberapa tahun terakhir terlihat lebih dekat daripada sekadar pembagian tugas struktural.
Sarmuji menjadi salah satu figur yang kerap tampil menjelaskan sikap dan agenda Golkar kepada publik. Dalam kapasitasnya sebagai Sekjen, ia juga menjadi sumber informasi penting mengenai sejumlah keputusan politik Bahlil.
Salah satu contohnya muncul pada Februari 2026.
Sarmuji mengungkapkan, Bahlil tidak akan maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2029 dan memilih maju sebagai calon anggota legislatif dari Papua. Pernyataan tersebut kembali ditegaskan Sarmuji pada September 2026.
Pilihan Papua itu bukan sekadar soal daerah pemilihan. Sarmuji menjelaskan bahwa Papua memiliki kedekatan khusus bagi Bahlil karena merupakan tempat kelahirannya.
Di titik ini, terlihat fungsi Sarmuji bukan hanya sebagai pengurus partai, tetapi juga sebagai salah satu orang yang menerjemahkan keputusan politik ketua umumnya kepada publik.
Kepercayaan yang dibalas dengan loyalitas politik. Kepercayaan politik biasanya tidak lahir hanya dari kedekatan personal. Kepercayaan dibangun melalui kerja, konsistensi, dan kemampuan mengelola organisasi.
Dalam kasus Bahlil-Sarmuji, salah satu indikator kepercayaan itu adalah posisi yang diberikan kepada Sarmuji. Selain sebagai Sekjen, Sarmuji juga memimpin Fraksi Partai Golkar di DPR RI.
Posisi tersebut menempatkannya pada dua simpul penting sekaligus: mesin organisasi partai dan mesin politik parlemen. Sarmuji pun terlihat konsisten membawa suara partai dan kepemimpinan Bahlil dalam berbagai isu politik.
Pada September 2026, misalnya, ia menyampaikan bahwa sikap Golkar dalam mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran, merupakan komitmen partai dan menyebut suara Sekjen Golkar merepresentasikan komitmen ketua umum.
Hubungan kerja seperti itu membuat keduanya tampak sebagai pasangan politik yang saling melengkapi: Bahlil berada di posisi puncak pengambilan keputusan partai, sementara Sarmuji banyak menjalankan fungsi organisasi, komunikasi politik, dan parlemen.
Dari Surabaya, Jember, Lalu Jakarta
Menariknya, perjalanan Sarmuji menuju kabinet tidak bermula dari Istana. Ia lahir di Surabaya pada 10 Juni 1974 dan menempuh pendidikan dasar hingga SMA di kota tersebut. Setelah itu ia berangkat ke Jember untuk kuliah di Universitas Jember. Di kampus inilah aktivitas organisasinya mulai membentuk jalur politiknya.
Sarmuji menjadi Ketua Koperasi Mahasiswa Universitas Jember dan kemudian Ketua Umum HMI Cabang Jember. Setelah itu ia masuk ke tingkat nasional di PB HMI. Riwayat hidupnya mencatat posisi Ketua Umum HMI Cabang Jember pada 1998–2000 dan Ketua PB HMI pada 2001–2002.
Dari HMI, jalurnya berlanjut ke organisasi kepemudaan Golkar. Ia pernah menjadi Wakil Sekjen AMPI dan kemudian Sekjen AMPG. Dari sana, pengalaman politiknya semakin dekat dengan parlemen dan struktur Partai Golkar.
Perjalanan tersebut memperlihatkan pola yang cukup jelas: organisasi mahasiswa, organisasi kepemudaan, partai, parlemen, pimpinan partai, kabinet.
Kini, setelah dilantik sebagai Menteri Perindustrian, lingkar perjalanan itu memasuki babak baru.
Pagi masih menjadi kemungkinan, siang menjadi kenyataan. Ada detail menarik lain dari pelantikan Sarmuji. Beberapa jam sebelum prosesi dimulai, statusnya bahkan belum secara terbuka diumumkan sebagai Menteri Perindustrian.
Sarmuji tiba di Istana setelah mendapat telepon dari Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Kepada jurnalis, ia mengatakan dirinya mendapat informasi mengenai kemungkinan penugasan di bidang industri. Kepastian mengenai posisi tersebut, menurut Sarmuji, baru diterimanya pada Kamis pagi.
Tak lama kemudian, teka-teki itu terjawab. Namanya dipanggil. Ia maju. Berita acara ditandatangani. Dan Sarmuji resmi meninggalkan kursi Sekjen Golkar untuk memasuki panggung eksekutif sebagai Menteri Perindustrian.
Di antara seluruh rangkaian itu, kamera kembali menangkap senyum Bahlil. Dua jalur yang kini bertemu di kabinet
Pelantikan 1 Oktober 2026 menciptakan konfigurasi baru bagi dua elite Golkar tersebut. Bahlil berada di posisi koordinator pemerintahan dengan portofolio hilirisasi dan energi. Sarmuji berada di Kementerian Perindustrian.
Secara kelembagaan, keduanya tentu memiliki kewenangan yang berbeda. Tetapi bidang yang mereka tangani memiliki irisan besar: industri, hilirisasi, investasi, dan penguatan rantai nilai ekonomi nasional.
Karena itu, pertemuan keduanya di kabinet bukan hanya menarik dari sisi politik internal Golkar. Ada pula dimensi kebijakan yang akan menarik untuk diamati: bagaimana komunikasi dan koordinasi antara kementerian teknis yang dipimpin Sarmuji dengan kementerian koordinator yang kini dipimpin Bahlil akan berjalan.
Di luar ruang kabinet, hubungan keduanya juga tetap berada dalam struktur Partai Golkar. Bahlil masih merupakan Ketua Umum, sementara Sarmuji sebelumnya adalah Sekjen.
Maka senyum Bahlil ketika Sarmuji menandatangani berita acara pelantikan, bisa menjadi simbol sederhana dari sebuah perjalanan panjang. Seorang ketua umum melihat sekretaris jenderalnya naik satu tingkat ke panggung pemerintahan. Seorang kader organisasi melihat rekan seperjalanannya mendapatkan amanah baru.
Dan bagi Sarmuji sendiri, pelantikan itu menandai perubahan posisi yang cukup besar: dari orang yang selama ini menjelaskan kebijakan partai kepada publik, kini ia menjadi bagian dari orang yang harus menjelaskan dan menjalankan kebijakan pemerintah.
Dari ruang organisasi mahasiswa di Jember, perjalanan itu akhirnya sampai ke Istana. Dan pada siang 1 Oktober 2026, namanya bukan lagi sekadar dipanggil sebagai Sekjen Partai Golkar. Namanya dipanggil sebagai Menteri Perindustrian Republik Indonesia. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan