TOLITOLI, KAIDAH.ID – Anggota DPRD Kabupaten Tolitoli, Jemi Yusuf, menyatakan kekhawatirannya terhadap kondisi Jembatan Salu di Dusun Salu, Kelurahan Nalu, Kecamatan Baolan, yang dinilai masih berisiko meski telah dibangun kembali.

Ia menilai, konstruksi jembatan saat ini tetap rawan, mengingat lokasinya berada di muara sungai dengan karakter arus pasang dan surut air laut yang cukup kuat.

“Kalau dulu roboh karena tidak ada tiang tengah, sekarang dibangun lagi tanpa tiang tengah, kami tentu cemas,” kata Jemi Yusuf, anggota DPRD dari Fraksi Partai Golkar kepada kaidah.ID, Ahad, 22 Februari 2026 malam.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Menurutnya, jembatan Salu sebelumnya roboh pada 26 Mei 2022. Berdasarkan hasil evaluasi teknis saat itu, bentang jembatan yang mencapai lebih dari 100 meter tanpa penopang tiang tengah menjadi salah satu faktor utama melemahnya struktur, terlebih karena berada di wilayah muara sungai.

Padahal, dalam kunjungan kerja DPRD bersama Dinas PUPR Kabupaten Tolitoli pada 29 Agustus 2023, telah disepakati pengalokasian anggaran sebesar Rp2,5 miliar melalui APBD 2024, untuk membangun kembali jembatan dengan konstruksi gantung menggunakan tiang tengah sebagai penguat struktur.

Namun dalam perkembangannya, pada Tahun Anggaran 2025 terjadi penambahan anggaran sebesar Rp600 juta, sehingga total menjadi Rp3,17 miliar. Meski demikian, jembatan yang terbangun justru tanpa tiang penyangga tengah sebagaimana rekomendasi awal.

Menurut Jemi Yusuf, perubahan desain tersebut perlu mendapat penjelasan terbuka agar tidak menimbulkan pertanyaan publik, terutama menyangkut aspek keselamatan dan akuntabilitas penggunaan anggaran.

Sebagai catatan, dua tahun sebelum roboh pada 2022, jembatan tersebut sempat menjalani rehabilitasi berat. Selain itu, peristiwa robohnya jembatan di Dusun Panyapu, Desa Galumpang, Kecamatan Dakopemean, yang juga tidak memiliki tiang tengah dan menyebabkan satu warga meninggal dunia, menjadi pelajaran penting agar pembangunan infrastruktur lebih mengedepankan faktor keselamatan.

Kasus Jembatan Salu kini menjadi perhatian serius, terutama bagi masyarakat Dusun Salu yang berjumlah sekitar 120 Kepala Keluarga atau kurang lebih 410 jiwa dan bergantung pada akses tersebut dalam aktivitas sehari-hari.

DPRD berharap pemerintah daerah dapat memberikan klarifikasi menyeluruh terkait perubahan desain konstruksi, sekaligus memastikan bahwa jembatan yang dibangun benar-benar aman dan tidak kembali menimbulkan risiko bagi warga. (*)

(Ruslan Sangadji)