Oleh: Andika / Pemerhati Pembangunan Sulawesi Tengah
Dengan gaya kepemimpinan yang sederhana, santun, dan bekerja dalam senyap, Imelda Liliana Muhidin menunjukkan pengabdian kepada daerah, tidak harus selalu disertai sorotan besar. Kadang justru dari kerja-kerja yang tenang itulah fondasi pembangunan kota dibangun dengan lebih kokoh. (*)
DI TENGAH DINAMIKA POLITIK LOKAL yang sering kali dipenuhi suara keras dan pencitraan berlebihan, kehadiran Imelda Liliana Muhidin sebagai Wakil Wali Kota Palu, justru menghadirkan gaya kepemimpinan yang berbeda. Ia bukan tipe pemimpin yang gemar tampil di panggung politik dengan retorika panjang.
Imelda dikenal santun, irit bicara, dan menjalankan tugasnya dengan pendekatan kerja yang tenang namun konsisten.
Bersama Hadianto Rasyid sebagai Wali Kota, Imelda menunjukkan pola kepemimpinan yang kompak. Keduanya saling melengkapi dalam membangun Palu. Hubungan kerja keduanya memperlihatkan koordinasi yang solid. Jika wali kota bergerak dengan energi kepemimpinan yang kuat dan ekspansif, Imelda hadir sebagai penyeimbang: lebih tenang, lebih reflektif, dan fokus pada kerja-kerja yang sering kali tidak terlihat di permukaan.
Sebagai wakil kepala daerah, Imelda menjalankan peran yang tidak selalu berada di garis depan sorotan publik, tetapi justru penting dalam menjaga stabilitas pemerintahan kota. Ia dikenal teliti dalam menjalankan fungsi koordinasi pemerintahan, memperkuat hubungan dengan berbagai unsur masyarakat, serta memastikan program-program pembangunan, berjalan sesuai arah kebijakan yang telah ditetapkan.
Yang menarik dari sosok Imelda adalah kesederhanaannya. Dalam berbagai kesempatan, ia tampil apa adanya. Tidak berjarak dengan masyarakat dan tidak membangun citra berlebihan.
Sikap santun yang melekat pada dirinya, membuat komunikasi dengan masyarakat berlangsung hangat dan natural. Ia tidak banyak berbicara, tetapi setiap pernyataannya cenderung terukur dan tidak dibuat-buat. Karakter irit bicara ini justru menjadi kekuatan tersendiri.
Di tengah iklim politik yang sering riuh oleh pernyataan-pernyataan populis, Imelda memilih bekerja dengan pendekatan yang lebih substantif. Ia membiarkan hasil kerja menjadi bahasa utama kepemimpinannya.
LEMBUT NAMUN TEGAS DALAM PRINSIP
Peran perempuan dalam kepemimpinan daerah, sering kali diuji oleh ekspektasi yang tinggi dari masyarakat. Namun Imelda menunjukkan, bahwa kepemimpinan perempuan tidak harus tampil keras untuk menjadi efektif.
Dengan ketenangan, kesabaran, dan konsistensi, ia memperlihatkan, bahwa kepemimpinan juga dapat berjalan melalui pendekatan yang lembut, namun tetap tegas dalam prinsip.
Dalam konteks pembangunan Kota Palu saat ini, kehadiran figur seperti Imelda Liliana Muhidin menjadi penting. Ia memperlihatkan bahwa pemerintahan yang baik, tidak selalu diwarnai oleh kompetisi ego, tetapi oleh kerja sama yang solid, pembagian peran yang jelas, dan komitmen bersama untuk melayani masyarakat.
Dengan gaya kepemimpinan yang sederhana, santun, dan bekerja dalam senyap, Imelda Liliana Muhidin menunjukkan pengabdian kepada daerah, tidak harus selalu disertai sorotan besar. Kadang justru dari kerja-kerja yang tenang itulah fondasi pembangunan kota dibangun dengan lebih kokoh. (*)
Editor: Ruslan Sangadji


Tinggalkan Balasan