“Olahraga berbicara kepada anak-anak muda dengan bahasa yang mereka mengerti. Olahraga dapat membangkitkan harapan di mana sebelumnya hanya ada keputusasaan. Olahraga bahkan lebih berkuasa daripada pemerintah dalam meruntuhkan tembok-tembok rasial,’ Nelson Mandela.

SKOR akhir pertandingan Grup G Piala Dunia 2026 antara Iran dan Selandia Baru, akan tercatat dalam buku statistik sebagai hasil imbang 2-2. Iran mencetak gol melalui Ramin Rezaeian pada menit ke-32 dan Mohammad Mohebi pada menit ke-64. Sementara Selandia Baru membalas melalui Elijah Just pada menit ke-7 dan 55.

Pertandingan berlangsung seru. Puluhan ribu penonton yang memadati SoFi Stadium di Inglewood, California, Amerika Serikat, larut dalam atmosfer pertandingan. Sorak-sorai bergemuruh setiap kali peluang tercipta. Tepuk tangan dan nyanyian suporter memenuhi stadion megah yang menjadi salah satu panggung Piala Dunia 2026.

Namun, ketika pertandingan itu usai dan saya mencoba mengingat apa yang paling membekas di benak saya, jawabannya ternyata bukan empat gol yang tercipta. Bukan pula duel sengit antarpemain, penyelamatan gemilang penjaga gawang, atau strategi kedua pelatih. Momen yang paling saya ingat justru terjadi beberapa menit sebelum kick-off.

Saat itu para pemain Iran keluar dari lorong stadion menuju lapangan. Seperti tradisi yang selalu hadir dalam turnamen-turnamen besar FIFA, mereka berjalan sambil menggandeng tangan anak-anak yang bertugas mendampingi para pemain memasuki arena pertandingan.

Pemandangan itu sebenarnya sederhana. Bahkan mungkin luput dari perhatian sebagian penonton yang lebih sibuk menunggu pertandingan dimulai. Tetapi saat itu, pemandangan tersebut terasa berbeda.

Di antara anak-anak yang berjalan mendampingi para pemain Iran, ada anak-anak Amerika yang tersenyum bangga. Mereka melangkah dengan wajah ceria di samping para pemain, yang beberapa menit lagi akan bertarung membawa nama negaranya masing-masing.

Entah mengapa, mata saya mendadak berkaca-kaca. Mungkin karena dunia beberapa waktu terakhir terasa semakin gaduh. Setiap hari media menyajikan berita tentang konflik, ancaman perang, serangan militer, dan ketegangan politik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kata-kata seperti permusuhan, balasan serangan, dan eskalasi konflik seolah menjadi menu harian yang terus menghiasi layar televisi, lamam-laman media maupun media sosial.

ANAK-ANAK HANYA MENGENAL KEGEMBIRAAN

Namun di lapangan hijau itu saya melihat sesuatu yang berbeda. Para pemain Iran menggenggam tangan anak-anak Amerika. Tidak ada kebencian di wajah mereka. Tidak ada prasangka. Tidak ada rasa curiga. Yang ada hanyalah senyum seorang anak dan langkah tenang seorang atlet yang sedang bersiap menghadapi pertandingan penting.

“Prasangka dapat berkurang, ketika individu dari kelompok berbeda bertemu dan berinteraksi dalam suasana yang setara dan positif,” kata .Gordon Allport dalam Contact Theory.

Saat itulah saya teringat bahwa anak-anak tidak pernah lahir membawa kebencian. Mereka tidak memahami konflik geopolitik, sengketa kawasan, embargo ekonomi, ataupun perlombaan senjata. Mereka tidak mengenal istilah musuh negara atau rival politik. Semua itu adalah dunia yang diciptakan orang dewasa. Anak-anak hanya mengenal rasa ingin tahu, persahabatan, dan kegembiraan. Lantaran itulah, momen tersebut terasa begitu menyentuh.

Pemain Iran yang berjalan menuju lapangan, tidak sedang memikirkan kewarganegaraan anak yang digandengnya. Mereka hanya melihat seorang anak kecil yang bangga bisa berjalan bersamanya. Begitu pula sang anak. Mereka tidak melihat isu nuklir atau konflik Timur Tengah. Mereka hanya melihat seorang pemain sepak bola yang mungkin selama ini hanya ia saksikan melalui layar televisi.

Di situlah saya kembali memahami, mengapa sepak bola sering disebut sebagai bahasa universal. “Olahraga berbicara kepada anak-anak muda dengan bahasa yang mereka mengerti. Olahraga dapat membangkitkan harapan di mana sebelumnya hanya ada keputusasaan. Olahraga bahkan lebih berkuasa daripada pemerintah dalam meruntuhkan tembok-tembok rasial,” kata Nelson Mandela.

Sepak bola mampu mempertemukan orang-orang dari berbagai negara, budaya, agama, dan latar belakang dalam satu ruang yang sama. Di atas lapangan, mereka boleh bersaing dengan keras. Namun sebelum pertandingan dimulai, ada pesan yang lebih besar yang ingin disampaikan.

Bahwa kemanusiaan selalu lebih penting daripada permusuhan. Bahwa perbedaan tidak harus melahirkan kebencian. Dan bahwa harapan untuk hidup damai sesungguhnya dimiliki oleh semua orang, di negara mana pun mereka dilahirkan.

Beberapa menit kemudian pertandingan dimulai. Sorak-sorai penonton kembali mengambil alih suasana. Iran dan Selandia Baru saling menyerang hingga akhirnya harus puas berbagi angka setelah bermain imbang 2-2. Tetapi bagi saya, momen terbaik pertandingan itu sudah terjadi sebelum wasit meniup peluit pertanda bola pertama ditendang.

Ketika para pemain Iran berjalan berdampingan dengan anak-anak Amerika memasuki lapangan, saya seperti melihat secercah harapan, bahwa dunia tidak harus selalu diwarnai oleh konflik dan permusuhan. Sebab terkadang pesan perdamaian yang paling kuat tidak lahir dari pidato para politikus. Tidak pula dari meja perundingan para diplomat. Pesan itu hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Sebuah genggaman tangan di lapangan hijau. Dan sepak bola, sekali lagi, mengingatkan kita bahwa kemanusiaan selalu memiliki cara untuk menyatukan perbedaan. (*)

Wallahu A’lam

(Ruslan Sangadji)