Hilirisasi kelapa di Morowali juga mendapat dukungan investasi nasional. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, sebelumnya mengatakan BPI Danantara turut terlibat dalam proyek tersebut
SULAWESI TENGAH mulai serius mengembangkan industrialisasi kelapa dalam. Program ini diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa. Bukan lagi sekadar menjual kelapa sebagai bahan mentah. Kelapa akan diolah menjadi berbagai produk turunan bernilai tinggi.
Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Anwar Hafid melalui Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Sulteng, Muhammad Neng, mengatakan industri kelapa dalam kini telah dibangun di Kabupaten Morowali.
“Sekarang sudah terbangun industri kelapa dalam di Kabupaten Morowali dengan nilai investasi Rp1,6 triliun,” kata Muhammad Neng, Jumat, 28 Agustus 2026.
Menurut dia, pabrik tersebut memiliki rencana produksi sekitar 400 ribu ton kelapa dalam per tahun.
Angka itu cukup besar. Sebab, produksi kelapa dalam Sulteng saat ini baru sekitar 190 ribu ton per tahun. Artinya, kebutuhan bahan baku industri masih jauh lebih besar dibandingkan produksi yang tersedia.
Lantaran itu, pemerintah mendorong masyarakat memperluas penanaman kelapa dalam.
“Kami menggenjot bagaimana masyarakat berlomba-lomba menanam kelapa dalam,” katanya.
Untuk memperkuat program tersebut, Pemprov Sulteng bersama pemerintah pusat telah menyalurkan bantuan bibit kelapa dalam. Jumlahnya mencapai 1,1 juta pohon.
Bibit kelapa dalam tersebut diharapkan tumbuh produktif, dan menjadi sumber bahan baku industri pada masa mendatang.
Dengan begitu, industri kelapa yang telah dibangun di Morowali dapat memperoleh pasokan bahan baku secara berkelanjutan.
Danantara Masuk Hilirisasi Kelapa
Hilirisasi kelapa di Morowali juga mendapat dukungan investasi nasional. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, sebelumnya mengatakan BPI Danantara turut terlibat dalam proyek tersebut.
Rosan yang juga CEO Danantara ini menerangkan, lembaga pengelola investasi negara itu menjadi bagian dari konsorsium bersama perusahaan asal China. Pabrik tersebut melibatkan Zhejiang FreeNow Food Co. Ltd.
Perusahaan asal China itu dikenal sebagai salah satu produsen produk turunan kelapa terbesar di negaranya. Konsorsium Indonesia juga ikut bergabung dalam proyek tersebut.
“Kehadiran investasi ini menjadi bagian dari upaya mempercepat hilirisasi komoditas kelapa di Indonesia,” ujarnya.
Target Kawasan Kelapa 500 Ribu Hektare
Pemerintah pusat juga menyiapkan target yang lebih besar. Pengawas Mutu Hasil Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Agus Rosyid, mengatakan pengembangan industri hilir kelapa, menjadi bagian dari agenda besar pemerintah. Program tersebut sejalan dengan arah kebijakan dalam RPJPN 2025-2045.
Pemerintah menargetkan pengembangan kawasan kelapa hingga sekitar 500 ribu hektare. Namun, kemampuan pembiayaan melalui APBN baru mencakup sekitar 221 ribu hektare hingga 2027. Karena itu, investasi swasta dan Danantara menjadi penting untuk mengejar target tersebut.
Hilirisasi tidak hanya soal membangun pabrik. Pasokan bahan baku juga harus disiapkan. Petani harus menjadi bagian penting dari rantai industri. Jika produksi kelapa meningkat, industri mendapat bahan baku. Petani mendapat pasar. Daerah memperoleh aktivitas ekonomi baru.
“Dan yang paling penting, kata Rosan, nilai tambah kelapa tidak lagi banyak dinikmati dari luar daerah. Industrialisasi kelapa di Sulteng berpeluang besar menjadi penggerak ekonomi baru,” kata Rosan. (*)

Tinggalkan Balasan