Oleh: Ruslan Sangadji | Kaidah.ID

Dia dibicarakan di banyak grup WhatsApp. Ada salah satu grup, anggotanya 395 orang se-Indonesia dan perwakilan luar negeri, tapi hanya tiga orang Sulteng (Kanda Farid Nasar, Kanda Ambo Dalle dan saya sendiri), Anwar Hafid didiskusikan serius

ADA gubernur yang kerap dibicarakan publik. Ketiganya dianggap mumpuni. Program dan kebijakannya dinilai baik dan layak mendapat apresiasi. Sebetulnya ada beberapa gubernur, tapi dalam artikel ini, kita batasi pada tiga orang saja, biar tidak terlalu panjang, agar tidak bosan membacanya.

Dedi Mulyadi

Di awal-awal memimpin Jawa Barat, Dedi Mulyadi yang dikenal dengan KDM sudah gas full. Dia dielukan-elukan. Dia viral sampai ke negeri jiran. Setiap saat, wajahnya, gaya ceplas-ceplosnya, caranya menyapa warga mewarnai laman media sosial. Sampai-sampai dia disebut gubernur konten olen sesama gubernur lain dalam sebuah rapat bersama Mendagri di DPR RI.

Dia ikut membersihkan sungai, menata kawasan puncak Bogor, jalan ke kampung-kampung, temui warga, bahkan bagi-bagi uang kepada warganya yang susah.

Dan belakangan, muncul beberapa frame semua kontennya dibuat-buat. Ada kru yang mengurus semua itu. Serupa sedang syuting film. Dedi Mulyadi dinilai meniru Jokowi.

Dan lantaran itu, namanya terdaftar dalam beberapa lembaga survei. Fantastis, KDM dianggap bisa menjadi pesaing Prabowo Subianto pada Pemilu 2029 nanti. Walau masih lama, tapi hasil survei itu bisa menjadi modal percaya diri yang tinggi.

Sherly Tjoanda

Gubernur Maluku Utara. Kerap ada di medsos, tivi dan podcast. Rocky Gerung di podcast memuji Sherly. Indonesia pun begitu, ikut membicarakan Sherly.

Sherly yang sebelumnya hanya ibu rumah tangga cum pengusaha, tugasnya menjalankan roda perusahaan dan mendampingi mendiang suaminya sebagai Bupati Pulau Morotai, Maluku Utara, telah menjadi milik Indonesia.

Sampai pengemudi taksi online di Jakarta, di Bogor membicarakan Sherly Tjoanda. Suaranya khas, tanpa melihat wajah, sudah langsung ketebak, itu Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara.

Keberpihakannya kepada rakyat terbilang oke punya. Dia dinantikan rakyat, disambut, dielu-elukan saat menemui warganya. Ada yang memeluk, bahkan ada yang menangis kalau bertemu. Nenek-nenek kadang memeluknya seperti memeluk seorang anak yang dirindukan. Ia viral, banyak yang bilang, layak ada di pentas nasional.

Sama seperti KDM, Sherly sudah tancap gas di awal-awal memimpin. Tak butuh waktu lama beradaptasi, ia sudah langsung berlari 80 kilometer per jam. Seperti melaju di jalan tol Jagorawi.

Sherly menjadi perhatian. Presiden Prabowo dalam pidato, jika menyebut nama Sherly Tjoanda, dipastikan mendapat sorakan dan tepuk tangan hadirin. Presiden bilang, sudah seperti bintang film peraih Piala Citra.

Anwar Hafid

Anwar Hafid punya cerita lain. Gubernur Sulawesi Tengah ini belakangan viral. Program Berani Cerdas dan Berani Sehat bersama Wakilnya Reny Lamadjido, cukup punya tempat tersendiri.

Berani Cerdas itu, program beasiswa bagi masyarakat Sulteng, mulai dari SD hingga S-3.

Dia selalu bilang ke mana-mana tempat, satu rumah wajib satu sarjana. Biayanya tak usah khawatir, ada program berani cerdas.

Meski beasiswa dari SD sampai S-3 juga dilakukan Gubernur Kalimantan Timur. Tapi hentakannya lebih kencang Gubernur Anwar Hafid. Mungkin karena pernah dihantam gempa magnitudo 7,4 sehingga goyangannya lebih kencang.

Kalau sakit, jangan galau. Tak usah pikir biaya. Datang saja ke rumah sakit pemerintah, bawa KTP dan kasih ke petugas. Selama masih KTP Sulawesi Tengah, tak perlu bayar lagi. Gratis.

Dua program itu, adalah bagian dari program 9 Berani Anwar Hafid dan Reny Lamadjido.

Dia dibicarakan di banyak grup WhatsApp. Ada salah satu grup, anggotanya 395 orang se-Indonesia dan perwakilan luar negeri, tapi hanya tiga orang Sulteng (Kanda Farid Nasar, Kanda Ambo Dalle dan saya sendiri), Anwar Hafid didiskusikan serius.

Anwar Hafid dibicarakan, dipuji, ditende di grup itu. Kami dari Sulteng hanya membaca, tak ikut nimbrung membicarakan, takutnya kami subyektif. Mereka bilang, kebijakan Berani Cerdas dan Berani Sehat bisa menjadi inspirasi, karena itu termasuk kebutuhan.

Atas program itu, banyak yang bilang Anwar Hafid bisa ikut kontestasi Nasional 2029. Bagi Anwar Hafid itu terlalu jauh. Ia tidak pikirkan itu. Bukan berarti tak level, tapi karena ia memilih fokus di Sulteng.

Kini Anwar Hafid, juga menjadi Gubernur Indonesia. Tinggal tunggu, podcast siapa yang akan mengundangnya. Stasiun tivi mana yang akan menghadirkannya lagi dalam tema Berani Cerdas dan Berani Sehat itu.

Yang pasti, Gubernur Anwar Hafid sudah menjadi isu, telah menjadi tema diskusi. Sudah dibicarakan banyak orang Indonesia.

Evaluasi Program Berani

Tenaga Ahli Pimpinan DPRD Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) Prof. Moh. Ahlis Djirimu, bilang pelaksanaan Program Sembilan Berani Pemerintah Provinsi Sulteng telah dievaluasi pada pelaksanaan tahun 2025.

Evaluasi tersebut mencakup sejumlah indikator, mulai dari Indikator Kinerja Utama (IKU), Indikator Kinerja Kunci (IKK), capaian administrasi, waktu pelaksanaan, aspek substantif hingga realisasi keuangan.

Moh Ahlis Djirimu mengatakan, secara umum pelaksanaan Program Sembilan Berani berada pada trajectoire (jalan) yang tepat.

“Indikator Kinerja Utama dan Indikator Kinerja Kunci, capaian administrasi, waktu, substantif dan keuangan berada pada trajectoire tepat,” kata Ahlis.

Menurutnya, evaluasi tersebut menjadi dasar untuk melakukan sejumlah perbaikan dalam pelaksanaan Program Sembilan Berani pada 2026.

Salah satu perubahan, kata Guru Besar Ekonomi Universitas Tadulako (Untad) Palu ini, diarahkan pada Program Berani Cerdas. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah didorong untuk lebih memperkuat sasaran afirmasi dibandingkan sasaran prestasi.

Menurut Prof Ahlis, kebijakan tersebut didasarkan pada kondisi riil pendidikan di Sulteng, yang menunjukkan masih tingginya jumlah anak dan pemuda yang tidak melanjutkan pendidikan.

Prof. Ahlis mengatakan, berdasarkan baseline data portal BKKBN, terdapat 208.930 anak usia 19-24 tahun atau 67,99 persen yang tidak melanjutkan kuliah.

Sementara pada kelompok usia 16-18 tahun, terdapat 26.094 anak atau 20,12 persen yang tidak melanjutkan pendidikan.

“Sedangkan usia 7-12 tahun atau SD/MI terdapat 89.446 anak atau 31,2 persen yang tidak lanjut sekolah,” sebutnya.

Adapun pada kelompok usia 13-15 tahun atau jenjang SMP, jumlah anak yang tidak bersekolah tercatat sebanyak 13.446 orang atau 9,1 persen.

Data tersebut, kata Ahlis, menunjukkan perlunya penguatan kebijakan afirmasi, agar intervensi pemerintah lebih banyak menyasar anak-anak yang menghadapi hambatan untuk mengakses pendidikan.

Dengan demikian, Program Berani Cerdas tidak hanya diarahkan untuk mendorong prestasi pendidikan, tetapi juga memastikan kelompok masyarakat yang rentan putus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikan mendapatkan kesempatan yang lebih besar.

Berani Sehat

Selain sektor pendidikan, evaluasi juga mencermati persoalan cakupan jaminan kesehatan melalui Program Berani Sehat.

Prof Ahlis mengatakan, Pemerintah Provinsi Sulteng masih menghadapi persoalan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), termasuk kepesertaan BPJS.

“Pada sisi Berani Sehat, Pemprov Sulawesi Tengah berhadapan dengan 26,76 persen atau 712.223 orang yang tidak punya JKN, termasuk BPJS,” katanya. (*)