Nilai mosintuwu bukan sekadar istilah, tetapi filosofi hidup yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Yang mengajarkan bahwa kebersamaan adalah kekuatan, dan persatuan adalah pilihan sadar yang harus terus diperjuangkan.

Namun, refleksi ini juga mengandung pesan kewaspadaan. Toleransi adalah amanah leluhur yang tidak boleh diabaikan. Toleransi rentan terkikis jika masyarakat lengah terhadap provokasi dan kepentingan sempit.

Toleransi ini adalah amanah. Jangan sampai dirusak oleh provokasi. Kita harus menjaganya bersama-sama.

Kerukunan, dalam konteks ini, bukanlah upaya menyeragamkan perbedaan. Justru sebaliknya, ia adalah kemampuan untuk menerima dan merayakan keberagaman sebagai kekayaan. Sulawesi Tengah menemukan keindahannya, justru karena perbedaan yang hidup di dalamnya.

Pada akhirnya, peringatan HUT ke-62 ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu atau merayakan pencapaian. HUT ini adalah ajakan untuk meneguhkan kembali komitmen bersama: menjaga kedamaian sebagai warisan paling berharga.

Dan semangat itu tetap sama—satu hati, satu tekad. Sulawesi Tengah damai, Sulawesi Tengah nambaso. (*)

(Editor: Ruslan Sangadji)