Zein Badjeber | Pemerhati Sosial

Catatan, capain dan gagasan penting dari Rektor Prof. Amar dalam membaca perjalanan dan masa depan Universitas Tadulako (Untad)

Periode kepemimpinan Prof. Amar sebagai Rektor saat ini menandai fase penting dalam sejarah UNTAD. Bukan hanya soal sistem dan tata kelola, tetapi terutama upaya membangun kembali kepercayaan diri institusional: keyakinan bahwa UNTAD memiliki karakter, keunggulan, dan peran penting bagi Indonesia.

Transformasi ini terlihat dalam tiga level:

Pertama, level institusi

Penguatan tata kelola, sistem manajemen, dan budaya mutu menjadi fondasi universitas modern yang mandiri dan adaptif.

Kedua, level akademik dan ekosistem pengetahuan.

Untad mulai membangun ekosistem digital seperti One Kliks dan SIGA 8, termasuk pengelolaan data, keuangan, dan perencanaan berbasis internal. Ini bukan sekadar digitalisasi, tetapi langkah menuju pengambilan keputusan berbasis data.

Ketiga, level identitas.

Untad bergerak dari universitas yang lahir karena kebutuhan wilayah, menjadi institusi dengan posisi strategis di kawasan.

Gagasan penting yang perlu terus diperkuat adalah, bahwa pusat pengetahuan tidak harus selalu di Jawa. Sulawesi Tengah dapat menjadi sumber lahirnya gagasan, riset, dan inovasi baru bagi Indonesia.

Dalam konteks ini, pengembangan Nalodo Research Center, Rano Tadulako, dan Arboretum menjadi penting. Bukan sekadar fasilitas, tetapi bagian dari pembentukan identitas akademik Untad.

Semua universitas ingin menjadi kelas dunia, tetapi tidak semua memiliki alasan untuk diperhatikan dunia.

Alasan itu lahir dari karya nyata: riset unggulan, publikasi berkualitas, laboratorium rujukan, dan inovasi yang dihasilkan.

Sebagian fondasi ini telah dimulai di bawah kepemimpinan Prof. Amar, meski transformasi ini masih berjalan.

Transformasi sebuah universitas tidak pernah selesai dalam satu periode kepemimpinan.

Karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mengawal ikhtiar besar yang sedang dibangun oleh Prof. Amar.

Bukan semata untuk melanjutkan sebuah program, tetapi untuk menjaga sebuah gagasan, bahwa Untad memiliki kemampuan untuk berdiri dengan kepercayaan dirinya sendiri, memiliki identitasnya sendiri, dan melahirkan pengetahuan yang dibutuhkan oleh Indonesia.

Karena pada akhirnya, Sulawesi Tengah dan Untad memiliki sesuatu yang membuat dunia membutuhkan pengetahuannya. (*)

Editor: Ruslan Sangadji