Generasi sekarang harus memiliki keberanian yang sama untuk bertanya: persoalan apa yang sedang dihadapi manusia hari ini, dan bagaimana nilai-nilai Islam dapat memberikan jawaban terhadap persoalan tersebut?

Kesetiaan kepada HMI tidak boleh diukur dari kemampuan kader menghafalkan sejarah dan rumusan organisasi. Kesetiaan yang lebih mendalam adalah kemampuan untuk meneruskan keberanian intelektual yang pernah dimiliki para pendahulu.

Sebab, menghormati pemikiran bukan berarti menjadikannya sebagai sesuatu yang tidak boleh disentuh. Pemikiran yang benar-benar hidup justru harus terus dibaca, diuji, diperdebatkan, dan dikembangkan.

Menguji Kembali Arah Kaderisasi

Maka, yang perlu dirumuskan kembali bukan semata-mata teks NDP, melainkan jalan perjuangan HMI secara keseluruhan.

HMI harus kembali bertanya: untuk apa organisasi ini hadir? Untuk apa kaderisasi dilakukan? Manusia seperti apa yang hendak dibentuk? Persoalan masyarakat seperti apa yang hendak dijawab? Dan perubahan seperti apa yang hendak diwujudkan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus menjadi titik awal rekonstruksi perjuangan HMI.

Sebab, kaderisasi yang hanya menghasilkan kader yang pandai berbicara tentang Islam tetapi tidak mampu membaca perubahan sosial akan kehilangan makna perjuangannya. Demikian pula kader yang menguasai teori tetapi tidak memiliki keberanian untuk mengubah realitas akan terjebak pada intelektualisme yang tidak produktif.

NDP sendiri menempatkan hubungan iman, ilmu, dan amal sebagai inti perjuangan. Karena itu, keberhasilan NDP tidak semestinya hanya diukur dari kemampuan kader menjelaskan konsep-konsep di dalamnya, tetapi dari sejauh mana nilai tersebut membentuk cara berpikir, sikap, keberanian, dan tindakan kader dalam kehidupan masyarakat.

Dari Wacana Menuju Perubahan

Dari sinilah jalan perjuangan baru HMI harus dimulai. HMI harus kembali menjadi organisasi yang berpikir sebelum bergerak, tetapi juga bergerak setelah berpikir.

HMI tidak cukup hanya menjadi organisasi yang memproduksi wacana. Ia harus menjadi organisasi yang mampu mengubah pengetahuan menjadi kebijakan, gagasan menjadi inovasi, kaderisasi menjadi kompetensi, dan idealisme menjadi solusi.

Jika dahulu persoalan besar umat adalah keterbelakangan pendidikan, kolonialisme pemikiran, kemiskinan, dan pencarian identitas keislaman dalam modernitas, maka generasi hari ini menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks.

Ada disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, perubahan iklim, krisis pangan dan energi, ketimpangan akses ekonomi, transformasi dunia kerja, disinformasi, oligarki ekonomi, serta perubahan hubungan antara negara, pasar, masyarakat, dan teknologi.

HMI tidak boleh berdiri di luar perubahan tersebut. Kader HMI harus hadir di dalamnya.

Mempertemukan Keislaman, Keilmuan, dan Teknologi

Karena itu, jalan perjuangan HMI ke depan harus mempertemukan keislaman, keindonesiaan, keilmuan, kewirausahaan, teknologi, kemanusiaan, dan keberlanjutan dalam sebuah orientasi perjuangan yang baru.

Islam tidak cukup hanya dipahami sebagai sumber moral personal, tetapi juga harus menjadi sumber etika publik.

Ilmu tidak cukup menjadi instrumen memperoleh gelar, tetapi harus menjadi kekuatan untuk memecahkan persoalan masyarakat.

Kewirausahaan tidak cukup dipahami sebagai aktivitas mencari keuntungan, tetapi sebagai instrumen pemberdayaan dan penciptaan lapangan kerja.

Teknologi tidak boleh hanya menjadi konsumsi, tetapi harus menjadi alat pembebasan dan peningkatan produktivitas masyarakat.