Dengan demikian, kader HMI harus dipersiapkan bukan hanya menjadi aktivis, tetapi juga menjadi intelektual, profesional, entrepreneur, teknolog, birokrat, politisi, akademisi, peneliti, pengusaha, dan pemimpin masyarakat yang memiliki basis nilai Islam.

Distribusi Kader dan Ruang Aktualisasi

Distribusi kader harus menjadi bagian dari jalan perjuangan tersebut. Kaderisasi tidak boleh berhenti ketika seseorang menyelesaikan training. Justru setelah proses kaderisasi selesai, perjuangan sesungguhnya dimulai.

Kader harus menemukan ruang aktualisasinya dan memberikan kontribusi nyata sesuai kompetensinya.

HMI harus mampu menjawab persoalan yang sangat konkret:

  1. Siapa kader yang akan menjadi ilmuwan
  2. Siapa yang akan membangun perusahaan teknologi?
  3. Siapa yang akan memperkuat UMKM
  4. Siapa yang akan menjadi ahli ekonomi?
  5. Siapa yang akan mengembangkan desa?
  6. Siapa yang akan menjadi pemimpin pemerintahan?
  7. Siapa yang akan memperjuangkan lingkungan?
  8. Siapa yang akan membangun ekosistem ekonomi kreatif?
  9. Siapa yang akan mengembangkan kecerdasan buatan untuk kepentingan masyarakat?
  10. Dan siapa yang akan memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak meninggalkan manusia?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari jalan perjuangan HMI hari ini.

Membutuhkan Peta Jalan Perjuangan Baru

Karena itu, HMI membutuhkan peta jalan perjuangan baru. Bukan sekadar program kerja lima tahunan, tetapi sebuah orientasi ideologis dan intelektual yang menjelaskan ke mana organisasi akan membawa kader dan untuk persoalan apa kader tersebut dipersiapkan.

Jalan perjuangan itu harus bertolak dari nilai-nilai dasar Islam, tetapi bergerak menuju persoalan konkret masyarakat.

Tauhid harus melahirkan manusia yang merdeka. Ilmu harus melahirkan kemampuan memecahkan persoalan. Keadilan harus melahirkan keberpihakan kepada kelompok yang tertinggal. Kemerdekaan harus melahirkan keberanian menolak berbagai bentuk penghambaan baru. Dan iman harus berujung pada amal yang memberikan manfaat.

Jalan Ketiga: Setia kepada Nilai, Kritis terhadap Formulasi

Dengan demikian, pembaruan HMI tidak boleh terjebak pada dua kutub ekstrem.

Kutub pertama adalah konservatisme, yang menganggap seluruh rumusan masa lalu tidak boleh disentuh.

Kutub kedua adalah modernisme tanpa akar, yang menganggap seluruh warisan masa lalu harus ditinggalkan.

HMI membutuhkan jalan ketiga:

  1. Kesetiaan kritis — setia kepada nilai, tetapi kritis terhadap formulasi.
  2. Menghormati sejarah — tetapi tidak diperbudak oleh sejarah.
  3. Menerima warisan — tetapi tetap memiliki keberanian untuk mengembangkannya.

Dalam kerangka itulah, merumuskan kembali jalan perjuangan HMI bukanlah bentuk pengkhianatan kepada para pendahulu. Justru sebaliknya, ia merupakan bentuk paling serius dalam meneruskan tradisi intelektual HMI.

Sebab, generasi terdahulu tidak mewariskan kepada kita kewajiban untuk mengulang jawaban mereka. Mereka mewariskan keberanian untuk mencari jawaban.

HMI Harus Memasuki Ruang-Ruang Baru

Maka, tugas generasi HMI hari ini bukan bertanya bagaimana menjadi seperti generasi masa lalu.

Tugasnya adalah bertanya: apa yang harus dilakukan HMI untuk menjawab persoalan generasi kita?

HMI harus berani memasuki ruang-ruang baru.
Kampus tetap penting, tetapi perjuangan tidak boleh berhenti di kampus. Masjid tetap penting, tetapi perjuangan tidak boleh berhenti di mimbar. Politik tetap penting, tetapi HMI tidak boleh direduksi menjadi organisasi perebutan kekuasaan.

Kaderisasi tetap menjadi jantung organisasi, tetapi kaderisasi harus menghasilkan manusia yang mampu bekerja dan menciptakan perubahan.

HMI harus hadir di desa, industri, perusahaan teknologi, pemerintahan, sekolah, pesantren, laboratorium, pasar, ruang digital, dunia kewirausahaan, masyarakat pesisir, sektor pertanian, ekonomi kreatif, dan berbagai ruang kehidupan masyarakat.

Di sanalah nilai-nilai perjuangan diuji.
Di sanalah iman, ilmu, dan amal menemukan bentuk konkretnya.
Agar Masa Lalu Memiliki Masa Depan

Pada akhirnya, jalan perjuangan HMI bukanlah sebuah jalan yang sudah selesai. Ia merupakan jalan yang terus dirumuskan oleh setiap generasi berdasarkan nilai yang diwariskan dan realitas yang dihadapi.

Karena itu, merumuskan kembali jalan perjuangan HMI bukan sekadar agenda intelektual, tetapi merupakan kebutuhan sejarah.

Yang harus dipertahankan adalah nilai.
Yang harus dikembangkan adalah pemikiran.
Yang harus diperbarui adalah strategi.
Yang harus diperluas adalah ruang pengabdian.
Dan yang harus dihidupkan kembali adalah keberanian kader untuk mengubah realitas.

Sebab, HMI tidak didirikan agar kader hanya mampu menjelaskan dunia. HMI didirikan agar kader memiliki keberanian, ilmu, dan iman untuk mengubah dunia menjadi lebih adil, lebih manusiawi, lebih maju, dan lebih bermartabat.

Inilah jalan perjuangan yang harus dirumuskan kembali. Bukan untuk meninggalkan masa lalu, tetapi agar masa lalu memiliki masa depan.

Bukan untuk mengganti identitas HMI, tetapi untuk menghidupkan kembali identitas tersebut dalam realitas baru.

Dan bukan untuk menciptakan HMI yang berbeda dari sejarahnya, tetapi untuk memastikan bahwa semangat perjuangan yang melahirkan HMI tetap hidup dan menemukan bentuknya dalam setiap zaman. (*)

Editor: Ruslan Sangadji